Teori Perilaku Konsumen: Utilitas, Preferensi, dan Pilihan Optimal
1. Mengapa Kita Perlu Teori Perilaku Konsumen?
Setiap hari Anda membuat ratusan keputusan konsumsi — memilih sarapan, memutuskan naik ojek atau jalan kaki, menimbang apakah membeli pakaian baru atau menabung. Dari luar, keputusan-keputusan ini tampak acak, didorong selera sesaat. Tapi ekonom berargumen ada pola yang konsisten dan dapat diprediksi di balik semua pilihan konsumsi itu.
Teori perilaku konsumen adalah upaya untuk mengungkap pola tersebut — membangun model yang cukup sederhana untuk dianalisis, namun cukup kaya untuk menangkap hal-hal penting tentang bagaimana orang membuat pilihan di bawah keterbatasan anggaran.
Teori perilaku konsumen menjawab satu pertanyaan fundamental: Mengapa konsumen yang rasional, dengan anggaran terbatas dan menghadapi harga-harga tertentu, memilih kombinasi barang tertentu dan bukan kombinasi lainnya?
Jawabannya tidak sesederhana "karena suka" atau "karena murah." Ada dua sisi yang harus selalu dianalisis secara bersamaan: preferensi (apa yang diinginkan konsumen) dan kemampuan (apa yang mampu dibeli). Pilihan optimal selalu berada di perpotongan keduanya.
Pemahaman ini bukan hanya akademis. Ia menjadi fondasi dari teori permintaan yang sudah kita pelajari, menjelaskan mengapa kurva permintaan miring ke bawah, memprediksi bagaimana konsumen merespons perubahan harga dan pendapatan, serta menjadi dasar bagi ratusan keputusan kebijakan dan strategi bisnis.
2. Utilitas: Mengukur Kepuasan Konsumen
2.1 Utilitas Total dan Utilitas Marginal
Ekonom menggunakan konsep utilitas untuk merepresentasikan tingkat kepuasan yang diperoleh konsumen dari mengonsumsi suatu barang. Ada dua ukuran yang perlu dibedakan:
Utilitas Total (TU) adalah total kepuasan kumulatif dari mengonsumsi sejumlah unit tertentu. Utilitas Marginal (MU) adalah tambahan kepuasan dari mengonsumsi satu unit terakhir — turunan dari utilitas total.
| Unit Kopi (cangkir) | Utilitas Total (TU) | Utilitas Marginal (MU) | Keterangan |
|---|---|---|---|
| 0 | 0 | — | Belum konsumsi |
| 1 | 40 | 40 | Sangat memuaskan |
| 2 | 70 | 30 | Masih menyenangkan |
| 3 | 90 | 20 | Biasa saja |
| 4 | 100 | 10 | Hampir tidak perlu |
| 5 | 100 | 0 | Titik saturasi |
| 6 | 95 | -5 | Mulai tidak nyaman |
Perhatikan bahwa TU terus naik (selama MU positif) namun pada laju yang semakin melambat. Ketika MU = 0, TU mencapai maksimum. Ketika MU negatif, TU mulai menurun — konsumsi berlebihan malah merugikan.
2.2 Hukum Utilitas Marginal yang Menurun
Pola di tabel di atas bukan kebetulan — ini mencerminkan salah satu hukum paling universal dalam ekonomi mikro.
(Law of Diminishing Marginal Utility) — Seiring bertambahnya konsumsi suatu barang, dengan kondisi konsumsi barang lain tetap, tambahan kepuasan dari setiap unit berikutnya akan semakin kecil.
Hukum ini menjelaskan banyak fenomena sehari-hari. Mengapa orang tidak menghabiskan semua uangnya untuk satu jenis barang favorit? Karena MU barang itu terus turun sementara MU barang lain yang belum dikonsumsi masih tinggi — pada titik tertentu, mengalihkan pembelian ke barang lain memberikan kepuasan lebih. Ini adalah fondasi psikologis dari perilaku diversifikasi konsumsi.
2.3 Utilitas Kardinal vs. Ordinal
Ada perdebatan mendasar dalam teori utilitas: apakah kepuasan bisa diukur secara absolut, atau hanya bisa dibandingkan secara relatif?
| Dimensi | Utilitas Kardinal | Utilitas Ordinal |
|---|---|---|
| Asumsi | Kepuasan bisa diukur dalam satuan ("utils") | Konsumen hanya bisa mengurutkan preferensi |
| Pertanyaan yang bisa dijawab | "Bundel A 2× lebih memuaskan dari B" | "A lebih disukai dari B" |
| Kelemahan | Tidak realistis — kepuasan tidak terukur secara objektif | Tidak bisa membandingkan utilitas antar individu |
| Digunakan dalam | Analisis MU sederhana (pendekatan marshallian) | Analisis kurva indiferen (pendekatan modern) |
3. Preferensi Konsumen dan Kurva Indiferen
3.1 Asumsi Dasar Preferensi
Teori perilaku konsumen dibangun di atas beberapa asumsi tentang bagaimana konsumen memeringkat preferensi mereka. Asumsi-asumsi ini bukan deskripsi sempurna realitas — melainkan penyederhanaan yang cukup masuk akal untuk membangun model yang bisa dianalisis.
| Asumsi | Makna | Implikasi |
|---|---|---|
| Kelengkapan (completeness) | Konsumen selalu bisa membandingkan dua bundel: A > B, B > A, atau A = B | Tidak ada situasi "tidak tahu mana yang lebih baik" |
| Transitivitas (transitivity) | Jika A > B dan B > C, maka A > C | Preferensi konsisten, tidak sirkular |
| Non-satiation (more is better) | Lebih banyak selalu lebih baik (setidaknya tidak lebih buruk) | Kurva indiferen miring ke bawah, bukan ke atas |
| Konveksitas | Konsumen lebih menyukai rata-rata daripada ekstrem | Kurva indiferen cembung ke asal (origin) |
3.2 Kurva Indiferen: Peta Kepuasan Konsumen
Kurva indiferen adalah kurva yang menghubungkan semua kombinasi dua barang (X dan Y) yang memberikan tingkat utilitas yang sama bagi konsumen. Konsumen bersikap "indiferen" — tidak peduli — di antara semua titik pada kurva yang sama.
Barang Y
|
10 | ·
| · U₃ (kepuasan tertinggi)
8 | · ·
| · · U₂
6 | · · ·
| · · · U₁ (kepuasan terendah)
4 |· ·
| ·
2 | ·
|·
|________________________ Barang X
2 4 6 8 10
Sifat kurva indiferen:
1. Miring ke bawah (negatif) — karena non-satiation
2. Tidak berpotongan satu sama lain — karena transitivitas
3. Cembung ke asal (convex) — mencerminkan MRS yang menurun
4. Semakin jauh dari origin = utilitas lebih tinggi
Himpunan seluruh kurva indiferen untuk seorang konsumen disebut peta indiferen (indifference map) — representasi lengkap dari seluruh sistem preferensi konsumen tersebut. Setiap titik di ruang (X, Y) ada pada tepat satu kurva indiferen.
Miring ke Bawah
Untuk mempertahankan kepuasan yang sama, mengurangi Y harus dikompensasi dengan menambah X. Ini karena kedua barang bernilai positif (non-satiation).
Tidak Berpotongan
Jika dua kurva berpotongan, akan terjadi kontradiksi logis — satu titik akan berada di dua tingkat utilitas berbeda sekaligus, melanggar transitivitas.
Cembung ke Origin
Mencerminkan keinginan konsumen untuk mendiversifikasi — preferensi akan rata-rata daripada ekstrem. Ini adalah implikasi dari MRS yang menurun.
Lebih Jauh = Lebih Baik
Kurva indiferen yang lebih jauh dari origin mencerminkan lebih banyak konsumsi kedua barang — dan karena non-satiation, ini selalu lebih disukai.
3.3 Tingkat Substitusi Marginal (MRS)
Marginal Rate of Substitution (MRS) adalah jumlah barang Y yang bersedia dikurangi konsumen untuk mendapat satu unit tambahan barang X, dengan tetap berada di tingkat kepuasan yang sama. Secara matematis: MRS = −ΔY/ΔX = MUx/MUy
MRS adalah kemiringan (slope negatif) dari kurva indiferen di titik tertentu. MRS menurun saat kita bergerak ke kanan sepanjang kurva indiferen — ini mencerminkan konveksitas kurva dan menjelaskan mengapa konsumen suka diversifikasi.
Intuisi MRS yang menurun: Bayangkan Anda memiliki banyak nasi dan sedikit lauk. Untuk mendapat satu porsi lauk tambahan, Anda bersedia mengorbankan banyak nasi (MRS tinggi) — karena nasi berlimpah dan lauk langka bagi Anda. Tapi ketika Anda sudah punya banyak lauk dan sedikit nasi, Anda hanya bersedia mengorbankan sedikit nasi untuk lauk tambahan (MRS rendah). Nilai relatif suatu barang bergantung pada kelimpahannya — inilah mengapa rata-rata lebih disukai dari ekstrem.
| Titik pada IC | X (Nasi) | Y (Lauk) | MRS (−ΔY/ΔX) | Interpretasi |
|---|---|---|---|---|
| A | 1 | 10 | — | Banyak lauk, sedikit nasi |
| B | 2 | 6 | 4 | Korbankan 4 lauk untuk 1 nasi |
| C | 3 | 3 | 3 | Korbankan 3 lauk untuk 1 nasi |
| D | 5 | 2 | 0.5 | Hanya mau korbankan ½ lauk |
| E | 8 | 1 | 0.33 | Nasi sudah banyak, lauk sangat berharga |
3.4 Bentuk Kurva Indiferen Khusus
Bentuk kurva indiferen yang cembung adalah kasus umum, tapi ada dua kasus khusus penting yang mencerminkan jenis hubungan berbeda antar barang:
1. SUBSTITUSI SEMPURNA 2. KOMPLEMEN SEMPURNA
(garis lurus) (sudut siku-siku / L-shape)
Y Y
| \ \ \ |
| \ \ \ ← IC1, IC2, IC3 |___·
| \ \ \ | |___·
| \ \ \ | |___·
|______\__\__\__ X |____________ X
Contoh: Uang Rp50.000 vs. Contoh: Sepatu kiri vs. kanan,
2×Rp25.000 (identik sempurna) teh + gula (proporsi tetap)
MRS = konstan MRS = 0 atau ∞ (tidak terdefinisi
di sudut, optimal selalu di sudut)
3. KASUS UMUM (cembung)
Y
|·
| ·
| ·
| ·
| ·_
|____________ X
MRS menurun saat bergerak ke kanan
4. Garis Anggaran: Batas Kemampuan Konsumen
4.1 Persamaan dan Kemiringan Garis Anggaran
Px · X + Py · Y = I
Di mana: Px = harga barang X, Py = harga barang Y, I = pendapatan (income). Garis anggaran menunjukkan semua kombinasi X dan Y yang tepat menghabiskan seluruh pendapatan.
Kemiringan (slope) garis anggaran adalah −Px/Py — rasio harga negatif. Ini memiliki interpretasi ekonomi yang kaya: untuk mendapat satu unit X tambahan, konsumen harus mengorbankan Px/Py unit Y. Kemiringan adalah harga relatif — berapa banyak Y yang "seharga" satu X di pasar.
Contoh: I = Rp120.000, Px = Rp20.000, Py = Rp15.000
Persamaan: 20.000X + 15.000Y = 120.000
→ Y = 8 - (4/3)X
Titik potong sumbu Y (X = 0):
Y_maks = I/Py = 120.000/15.000 = 8 unit
(jika semua uang dibelikan Y)
Titik potong sumbu X (Y = 0):
X_maks = I/Px = 120.000/20.000 = 6 unit
(jika semua uang dibelikan X)
Kemiringan = −Px/Py = −20.000/15.000 = −4/3
Barang Y
|
8 |●
| \
6 | \
| \
4 | \
| \
2 | \
| \
|________________●__ Barang X
6
4.2 Pergeseran Garis Anggaran
| Perubahan | Dampak pada Garis Anggaran | Visualisasi |
|---|---|---|
| Pendapatan naik (I↑) | Bergeser paralel ke luar — kedua titik potong naik proporsional | Lebih banyak kombinasi terjangkau |
| Pendapatan turun (I↓) | Bergeser paralel ke dalam — kedua titik potong turun proporsional | Lebih sedikit kombinasi terjangkau |
| Harga X naik (Px↑) | Berputar ke dalam pada sumbu X — titik potong sumbu Y tetap, X_maks turun | Kemiringan lebih curam |
| Harga X turun (Px↓) | Berputar ke luar pada sumbu X — titik potong sumbu Y tetap, X_maks naik | Kemiringan lebih landai |
| Kedua harga naik sama proporsi | Identik dengan penurunan pendapatan — bergeser paralel ke dalam | Sama dengan I turun |
5. Pilihan Optimal Konsumen
Konsumen yang rasional berusaha mencapai kurva indiferen setinggi mungkin (kepuasan maksimal), namun dibatasi oleh garis anggaran. Solusinya selalu terletak pada titik di mana garis anggaran bersinggungan dengan kurva indiferen tertinggi yang masih dapat dijangkau.
5.1 Kondisi Matematika Optimal
Pada titik optimal, dua kondisi harus terpenuhi secara bersamaan:
Kondisi Tangensial: MRS = Px/Py
Kemiringan kurva indiferen (MRS) harus sama dengan kemiringan garis anggaran (rasio harga). Secara ekonomi: tingkat substitusi yang diinginkan konsumen harus sama dengan tingkat substitusi yang ditawarkan pasar.
Kondisi Anggaran: Px·X + Py·Y = I
Titik optimal harus tepat berada di garis anggaran — konsumen membelanjakan seluruh pendapatannya (tidak ada yang tersisa, tidak ada yang melebihi).
MRS = Px/Py dapat ditulis ulang sebagai:
MUx / Px = MUy / Py
Artinya: pada titik optimal, utilitas marginal per rupiah yang dibelanjakan untuk setiap barang harus sama. Jika MUx/Px > MUy/Py, konsumen bisa menaikkan kepuasan dengan menggeser belanja dari Y ke X — hingga rasio kembali seimbang.
Intuisi ini sangat powerful. Ia berlaku tidak hanya untuk dua barang, tapi untuk sebanyak apapun barang yang dikonsumsi: konsumen optimal ketika utilitas marginal per rupiah sama untuk semua barang yang dibeli. Jika ada satu barang dengan MU/P lebih tinggi, konsumen bisa selalu meningkatkan kepuasan dengan menggeser anggaran ke barang itu.
5.2 Contoh Perhitungan
Diketahui:
Fungsi utilitas: U(X, Y) = X · Y
Harga X (Px) = Rp4.000
Harga Y (Py) = Rp2.000
Pendapatan (I) = Rp40.000
Langkah 1 — Hitung MU masing-masing barang:
MUx = ∂U/∂X = Y
MUy = ∂U/∂Y = X
Langkah 2 — Terapkan kondisi optimal MUx/Px = MUy/Py:
Y/4.000 = X/2.000
Y/4 = X/2
2Y = 4X
Y = 2X ← hubungan optimal antara X dan Y
Langkah 3 — Substitusi ke garis anggaran:
4.000X + 2.000Y = 40.000
4.000X + 2.000(2X) = 40.000
4.000X + 4.000X = 40.000
8.000X = 40.000
X* = 5
Langkah 4 — Hitung Y* dan U*:
Y* = 2X* = 2(5) = 10
U* = X* · Y* = 5 × 10 = 50
Pilihan optimal: X* = 5, Y* = 10, Utilitas = 50
Belanja: 4.000(5) + 2.000(10) = 20.000 + 20.000 = Rp40.000 ✓
Verifikasi MRS = Px/Py:
MRS = MUx/MUy = Y*/X* = 10/5 = 2
Px/Py = 4.000/2.000 = 2 ✓
5.3 Solusi Sudut (Corner Solution)
Tidak semua masalah pilihan konsumen menghasilkan solusi interior (kedua barang dikonsumsi positif). Solusi sudut terjadi ketika optimal bagi konsumen untuk tidak mengonsumsi salah satu barang sama sekali — optimal berada di salah satu ujung garis anggaran.
Barang Y Barang Y
| |
Y_max|● |●
| \ IC1 | ·
| \ IC2 | · IC1
| \ IC3 | · IC2
| \ ↑ | · IC3
| \ Optimal | ●←Optimal di X_max
|_______\●___ X |_____●________ X
X_max X_max
KIRI: Solusi sudut di Y_max KANAN: Solusi sudut di X_max
Konsumen hanya beli Y (X = 0) Konsumen hanya beli X (Y = 0)
Terjadi jika MRS > Px/Py di X=0 Terjadi jika MRS < Px/Py di Y=0
Solusi sudut umum terjadi untuk barang yang harganya terlalu mahal dibanding nilai marginalnya, atau untuk konsumen dengan preferensi yang sangat kuat terhadap satu jenis barang. Contoh nyata: seseorang yang tidak minum alkohol sama sekali (sudut 0 untuk alkohol) atau seseorang yang menghabiskan semua "hiburan budget"-nya hanya untuk satu platform streaming favorit.
6. Efek Pendapatan dan Efek Substitusi
Ketika harga suatu barang berubah, konsumen menyesuaikan pilihan melalui dua saluran yang berbeda secara konseptual. Memisahkan kedua efek ini adalah salah satu analisis paling elegan dalam teori konsumen — dan penting untuk memahami mengapa kurva permintaan berbentuk seperti yang kita kenal.
6.1 Efek Perubahan Harga
Pergeseran Preferensi Relatif
Saat Px naik, X menjadi relatif lebih mahal dibanding Y. Konsumen beralih ke Y — murni karena perubahan harga relatif, bukan karena lebih miskin. Selalu berlawanan arah dengan perubahan harga.
Perubahan Daya Beli Riil
Kenaikan Px mengurangi daya beli riil konsumen — seolah pendapatan turun. Dampaknya tergantung jenis barang: barang normal dikurangi, barang inferior justru ditambah.
Barang Y
|
| Garis anggaran awal (BL1)
| Garis anggaran kompensasi (BL_comp) ← harga baru, daya beli lama
| Garis anggaran akhir (BL2) ← harga baru, pendapatan asli
|
Y1 |─────── A (optimal awal)
| |
Y_c |──── B | ← B: optimal di BL_comp (efek substitusi saja)
| / |
Y2 |──────────── C ← C: optimal akhir (efek total)
| / \
| / \
|_/____________\___ Barang X
X1 X_c X2
Efek Total (A → C) = Efek Substitusi (A → B) + Efek Pendapatan (B → C)
Dalam dekomposisi Hicks:
- BL_comp disesuaikan sehingga konsumen bisa tetap mencapai kurva IC asal
- Gerakan A → B: harga relatif berubah, utilitas tetap = efek substitusi murni
- Gerakan B → C: harga tetap (baru), daya beli turun = efek pendapatan
6.2 Barang Normal, Inferior, dan Giffen
Pembagian efek substitusi dan efek pendapatan menjelaskan mengapa berbagai jenis barang memiliki kurva permintaan yang berbeda.
| Jenis Barang | Efek Substitusi | Efek Pendapatan | Efek Total (jika P naik) | Kurva Permintaan |
|---|---|---|---|---|
| Normal | Kurangi X (−) | Kurangi X (−) karena daya beli turun | Kurangi X (−−) | Miring ke bawah (normal) |
| Inferior | Kurangi X (−) | Tambah X (+) karena "lebih miskin" mendorong ke barang murah | Kurangi X (net −, karena |ES| > |EI|) | Miring ke bawah (tapi lebih landai) |
| Giffen | Kurangi X (−) | Tambah X (++ sangat besar) | Tambah X (+) efek pendapatan dominasi | Miring ke atas (anomali langka) |
7. Studi Kasus Indonesia
Pergeseran Pola Konsumsi Beras: Utilitas Marginal yang Menurun dan Efek Pendapatan
Beras adalah kasus menarik dalam teori perilaku konsumen Indonesia. Bagi keluarga berpendapatan sangat rendah, beras adalah barang inferior: ketika pendapatan naik, mereka mengalihkan konsumsi ke makanan yang lebih beragam dan bergizi — nasi dikurangi, protein hewani ditambah. Ini adalah efek pendapatan klasik untuk barang inferior.
Data Susenas BPS secara konsisten menunjukkan pola ini: kelompok pengeluaran tertinggi mengonsumsi beras lebih sedikit per kapita dibanding kelompok menengah. Sebaliknya, daging sapi, ikan, dan produk olahan susu adalah barang normal — konsumsinya naik proporsional dengan pendapatan.
Bagaimana Marketplace Menggeser Garis Anggaran dan Kurva Indiferen
Kemunculan Tokopedia, Shopee, dan Lazada telah mengubah struktur pasar konsumen Indonesia secara fundamental — dan dapat dianalisis melalui lensa teori perilaku konsumen. Dari sisi garis anggaran, marketplace menurunkan harga efektif banyak barang (diskon, cashback, ongkir gratis) — setara dengan memutar garis anggaran ke luar untuk kategori barang online. Konsumen yang sama dengan pendapatan yang sama tiba-tiba bisa membeli lebih banyak.
Dari sisi preferensi (kurva indiferen), iklan dan social proof di platform tersebut berhasil menggeser peta indiferen konsumen — menciptakan keinginan baru untuk kategori barang yang sebelumnya tidak masuk radar. Ini bukan sekadar pergerakan di sepanjang kurva indiferen yang ada, melainkan perubahan pada kurva itu sendiri.
Ojek Online dan Efek Substitusi di Pasar Transportasi Perkotaan
Kemunculan Gojek dan Grab sekitar 2015 secara dramatis menurunkan harga efektif transportasi berbasis motor di kota-kota besar Indonesia. Ini adalah perubahan Px yang besar untuk "barang X" (ojek/mobil online), sementara Py (taksi konvensional, angkot, kendaraan pribadi) relatif tidak berubah.
Efek substitusi yang terjadi sangat besar: jutaan konsumen beralih dari angkot, bajaj, taksi konvensional, bahkan kendaraan pribadi ke ojek online. Ojek konvensional pun mengalami penurunan permintaan drastis. Di sisi efek pendapatan: harga transportasi yang lebih murah meningkatkan daya beli riil konsumen kota — anggaran yang tersisa dari penghematan transportasi bisa dialokasikan ke konsumsi lain.
8. Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
📚 Referensi & Sumber
-
1Varian, Hal R. — Intermediate Microeconomics: A Modern Approach (9th ed.) W.W. Norton & Company, 2014. Bab 2–6: Preferensi, utilitas, garis anggaran, pilihan konsumen, dan permintaan. Rujukan utama untuk pendekatan ordinal dan dekomposisi Slutsky.
-
2Pindyck, R.S. & Rubinfeld, D.L. — Microeconomics (9th ed.) Pearson Education, 2018. Bab 3–4: Perilaku konsumen dan permintaan individu. Penjelasan komprehensif tentang kurva indiferen, garis anggaran, dan efek pendapatan-substitusi dengan banyak contoh terapan.
-
3Mankiw, N. Gregory — Principles of Microeconomics (9th ed.) Cengage Learning, 2021. Bab 21: Appendix on Consumer Theory. Pengantar kurva indiferen dan garis anggaran dengan pendekatan yang lebih aksesibel untuk pemula.
-
4Kahneman, Daniel — Thinking, Fast and Slow Farrar, Straus and Giroux, 2011. Perspektif psikologis dan behavioral economics yang melengkapi — dan menantang — asumsi rasionalitas dalam teori konsumen standar.
-
5Badan Pusat Statistik (BPS) — Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) Data pola konsumsi rumah tangga Indonesia berdasarkan kelompok pengeluaran, digunakan sebagai dasar studi kasus konsumsi beras dan diversifikasi pangan.
bps.go.id -
6Khan Academy — Consumer Theory & Indifference Curves Penjelasan visual interaktif tentang kurva indiferen, garis anggaran, pilihan optimal, dan dekomposisi efek pendapatan-substitusi.
khanacademy.org/economics-finance-domain/microeconomics
Ringkasan: Apa yang Sudah Kita Pelajari
- Utilitas total (TU) adalah kepuasan kumulatif; utilitas marginal (MU) adalah tambahan kepuasan dari unit terakhir. MU selalu menurun seiring bertambahnya konsumsi — inilah hukum DMU.
- Kurva indiferen menghubungkan kombinasi dua barang dengan kepuasan yang sama. Sifatnya: miring ke bawah, tidak berpotongan, cembung ke origin, dan lebih jauh dari origin = lebih baik.
- MRS = MUx/MUy adalah kemiringan kurva indiferen — berapa banyak Y yang rela dikorbankan untuk satu unit X tambahan. MRS menurun saat bergerak ke kanan (kunci konveksitas).
- Garis anggaran: Px·X + Py·Y = I. Kemiringannya = −Px/Py (harga relatif). Bergeser paralel jika I berubah; berputar jika salah satu harga berubah.
- Pilihan optimal: MRS = Px/Py (tangensial) DAN berada di garis anggaran. Ekuivalen dengan MUx/Px = MUy/Py — utilitas marginal per rupiah sama untuk semua barang.
- Efek substitusi: perubahan harga relatif → beralih ke barang yang lebih murah secara relatif (selalu berlawanan arah dengan perubahan harga). Efek pendapatan: perubahan daya beli riil → tergantung jenis barang.
- Barang normal: kedua efek memperkuat penurunan konsumsi saat harga naik. Barang inferior: efek pendapatan melawan efek substitusi. Barang Giffen (sangat langka): efek pendapatan mendominasi → kurva permintaan miring ke atas.
0 Komentar
Punya pertanyaan? Silahkan komen dibawah.