Kegagalan Pasar: Jenis, Penyebab, dan Dampaknya terhadap Efisiensi Ekonomi
1. Ketika Pasar Gagal Bekerja Efisien
Dalam kondisi idealnya, pasar kompetitif adalah mesin alokasi yang luar biasa. Harga menjadi sinyal yang mengarahkan sumber daya ke penggunaan paling produktif, dan "tangan tak terlihat" Adam Smith membawa perekonomian menuju efisiensi tanpa ada yang perlu mengaturnya. Namun dunia nyata jauh lebih kompleks dari model ideal itu.
Pabrik yang membuang limbah ke sungai tidak membayar biaya yang ditanggung masyarakat sekitar. Vaksin yang melindungi bukan hanya pembelinya tapi juga orang di sekitarnya diproduksi terlalu sedikit oleh pasar. Penjual mobil bekas tahu kondisi kendaraannya jauh lebih baik dari pembeli. Semua ini adalah contoh-contoh di mana mekanisme pasar gagal menghasilkan alokasi yang efisien secara sosial.
Kegagalan pasar (market failure) adalah kondisi di mana mekanisme pasar yang kompetitif gagal mengalokasikan sumber daya secara efisien — yaitu gagal mencapai kondisi di mana nilai sosial marginal dari suatu barang atau aktivitas sama dengan biaya sosial marginalnya. Kegagalan pasar menciptakan deadweight loss: kerugian kesejahteraan bersih yang tidak bisa dihindari tanpa intervensi.
Memahami kegagalan pasar adalah fondasi dari seluruh justifikasi intervensi pemerintah dalam perekonomian. Tanpa adanya kegagalan pasar, argumen untuk regulasi, pajak, subsidi, atau penyediaan barang publik oleh negara menjadi sangat lemah. Artikel ini memetakan empat sumber utama kegagalan pasar dan dampaknya — sementara respons kebijakan akan dibahas mendalam di artikel berikutnya.
2. Empat Jenis Kegagalan Pasar
Eksternalitas
Dampak dari suatu transaksi yang dirasakan oleh pihak ketiga yang tidak terlibat, dan tidak tercermin dalam harga pasar. Bisa negatif (polusi) atau positif (vaksinasi, pendidikan).
Barang Publik
Barang yang bersifat non-rival dan non-excludable sehingga pasar swasta tidak punya insentif untuk menyediakannya secara optimal — karena tidak bisa memungut bayaran dari pengguna.
Informasi Asimetris
Satu pihak dalam transaksi memiliki informasi yang jauh lebih baik dari pihak lain, memungkinkan eksploitasi dan menghalangi transaksi yang seharusnya menguntungkan kedua belah pihak.
Kekuatan Pasar (Monopoli)
Kemampuan satu perusahaan atau kelompok untuk mempengaruhi harga di atas biaya marginal, menghasilkan output yang terlalu rendah dan harga yang terlalu tinggi dari perspektif efisiensi sosial.
3. Eksternalitas
Eksternalitas adalah dampak dari kegiatan produksi atau konsumsi seseorang terhadap pihak ketiga yang tidak terlibat dalam transaksi, dan dampak tersebut tidak tercermin dalam harga pasar. Eksternalitas menyebabkan biaya atau manfaat sosial berbeda dari biaya atau manfaat privat.
3.1 Eksternalitas Negatif dan Produksi Berlebihan
Ketika produksi atau konsumsi menimbulkan biaya bagi pihak ketiga, biaya sosial menjadi lebih tinggi dari biaya privat. Produsen yang hanya memperhitungkan biaya privat akan berproduksi terlalu banyak dari sudut pandang sosial.
Biaya/Harga
| MSC (Marginal Social Cost = MPC + Biaya Eksternal)
| /
| / ↑ Biaya Eksternal
| / (polusi, kemacetan, dll)
| /
| / MPC (Marginal Private Cost = kurva S pasar)
| /
P* |···×······················· ← Harga & output optimal sosial
| /| \
Pm |·/ | × ← Keseimbangan pasar (terlalu banyak)
|/ | / \
| | / \
| |/ DWL \ D = MSB (Marginal Social Benefit)
|___|___|____\_____ Q
Q* Qm
↑ ↑
Output Output
optimal pasar
sosial (berlebih)
DWL = segitiga yang terbentuk antara Q* dan Qm
→ Setiap unit antara Q* dan Qm: MSC > MSB
(biaya sosial melebihi manfaat sosial)
→ Inefisiensi yang tidak bisa diselesaikan pasar sendiri
Rumus: Biaya Eksternal Marginal (MEC) = MSC − MPC
Solusi Pigou: pajak = MEC di titik output optimal (t* = MEC di Q*)
Contoh eksternalitas negatif sangat beragam: polusi udara dari pabrik dan kendaraan, limbah cair industri ke sungai, kebisingan konstruksi, kemacetan lalu lintas (setiap pengemudi tambahan memperparah kemacetan bagi yang lain), dan rokok di tempat umum. Semua ini memiliki kesamaan: biaya sosial yang tidak ditanggung oleh pelakunya.
3.2 Eksternalitas Positif dan Produksi Kurang
Ketika suatu aktivitas memberikan manfaat bagi pihak ketiga tanpa kompensasi, manfaat sosial menjadi lebih tinggi dari manfaat privat. Pelaku yang hanya memperhitungkan manfaat privat akan memproduksi terlalu sedikit dari sudut pandang sosial.
Biaya/Harga
|
| MSB (Marginal Social Benefit = MPB + Manfaat Eksternal)
| / ↑ Manfaat Eksternal
| / (herd immunity, spillover pendidikan, dll)
P*|··/·×····· ← Harga & output optimal sosial
| / |\ DWL
Pm|·× | \
| \ | \ MPB (Marginal Private Benefit = kurva D pasar)
| \ | \
| \| \
| | \ S = MPC
|_____|______ \__ Q
Qm Q*
↑ ↑
Output Output
pasar optimal
(kurang) sosial
Pasar menghasilkan Qm < Q* karena individu hanya
memperhitungkan MPB — tidak peduli manfaat bagi orang lain
Solusi: Subsidi = Manfaat Eksternal Marginal di Q*
→ Menurunkan harga efektif bagi konsumen/produsen
→ Mendorong output ke Q*
Contoh eksternalitas positif yang paling kuat: vaksinasi (melindungi bukan hanya yang divaksin tapi orang di sekitarnya melalui herd immunity), pendidikan (meningkatkan produktivitas dan kohesi sosial secara luas), penelitian dan pengembangan (inovasi menjadi pengetahuan publik yang dimanfaatkan banyak pihak), dan penanaman pohon (manfaat lingkungan dirasakan semua orang).
3.3 Teorema Coase
Apakah intervensi pemerintah selalu diperlukan untuk mengatasi eksternalitas? Ronald Coase (pemenang Nobel 1991) berpendapat tidak — dalam kondisi tertentu, pihak-pihak yang terlibat bisa bernegosiasi sendiri hingga mencapai solusi efisien.
Jika hak kepemilikan didefinisikan dengan jelas dan biaya transaksi sangat rendah atau nol, pihak-pihak yang terlibat eksternalitas akan bernegosiasi untuk mencapai alokasi sumber daya yang efisien secara sosial — terlepas dari siapa yang memiliki hak properti awal.
Pabrik membuang limbah ke sungai, merugikan nelayan. Biaya pembersihan limbah = Rp100 juta/tahun Kerugian nelayan akibat polusi = Rp150 juta/tahun KASUS A: Nelayan punya hak atas sungai bersih → Pabrik harus bayar ganti rugi atau membersihkan limbah → Pabrik pilih membersihkan (Rp100jt < Rp150jt ganti rugi) → Hasil: sungai bersih ✓ (efisien) KASUS B: Pabrik punya hak membuang limbah → Nelayan menawarkan membayar pabrik untuk berhenti → Nelayan bersedia bayar hingga Rp150 juta → Pabrik mau berhenti jika dibayar minimal Rp100 juta → Ruang negosiasi: Rp100jt–Rp150jt → deal tercapai → Hasil: sungai bersih ✓ (efisien, meski distribusinya beda) Kesimpulan Coase: hasil akhir (efisiensi) sama meski hak properti berbeda — hanya distribusi keuntungan yang berubah. SYARAT yang sering tidak terpenuhi dalam praktik: ✗ Biaya transaksi tinggi (banyak pihak yang terdampak) ✗ Hak properti tidak jelas (siapa yang "memiliki" udara bersih?) ✗ Informasi asimetris tentang biaya dan manfaat ✗ Masalah hold-up dan bargaining power tidak setara
4. Barang Publik dan Masalah Free Rider
4.1 Klasifikasi Empat Jenis Barang
Untuk memahami mengapa pasar gagal menyediakan barang publik, kita perlu membedakan barang berdasarkan dua dimensi: apakah bisa dikecualikan (excludable) dan apakah bersaing dalam konsumsi (rival).
Barang Privat
Rival ✓ · Excludable ✓
Konsumsi mengurangi ketersediaan; yang tidak bayar bisa dikecualikan.
Contoh: makanan, pakaian, mobil
Barang Klub
Non-rival ✓ · Excludable ✓
Bisa digunakan bersama tanpa pengurangan; tapi yang tidak bayar bisa dikecualikan.
Contoh: Netflix, tol sepi, kolam renang privat
Sumber Daya Bersama
Rival ✓ · Non-excludable ✓
Penggunaan satu pihak mengurangi ketersediaan; tapi tidak bisa melarang orang menggunakan.
Contoh: ikan laut bebas, hutan adat, air tanah
Barang Publik
Non-rival ✓ · Non-excludable ✓
Konsumsi tidak mengurangi ketersediaan; tidak bisa melarang siapapun menikmatinya.
Contoh: pertahanan nasional, lampu jalan, ilmu pengetahuan
4.2 Dilema Free Rider
Masalah inti barang publik adalah free rider problem: karena tidak ada yang bisa dikecualikan dari menikmati barang publik, setiap individu punya insentif untuk menunggu orang lain yang membayar, lalu ikut menikmati tanpa membayar.
Skenario: Warga RT ingin memasang lampu jalan (biaya Rp10 juta) Manfaat bagi masing-masing dari 20 warga = Rp1 juta Total manfaat sosial = Rp20 juta > Rp10 juta biaya → layak secara sosial Namun keputusan individual setiap warga: ┌─────────────────────────────────────────────────────┐ │ Jika warga lain MEMBAYAR │ Jika warga lain TIDAK BAYAR │ ├──────────────────┼──────────────────┼─────────────────────────────┤ │ Saya BAYAR │ Lampu ada, saya │ Lampu tidak ada, saya │ │ │ rugi (bayar tapi │ rugi (bayar tapi tidak ada │ │ │ tidak perlu) │ lampu cukup) │ ├──────────────────┼──────────────────┼─────────────────────────────┤ │ Saya TIDAK BAYAR │ Lampu ada, saya │ Lampu tidak ada — sama-sama │ │ (free ride) │ UNTUNG (menikmati│ rugi tapi setidaknya tidak │ │ │ tanpa bayar) ★ │ keluar uang │ └──────────────────┴──────────────────┴─────────────────────────────┘ Strategi dominan setiap individu: TIDAK BAYAR ★ → Semua warga memilih tidak membayar → Lampu tidak terpasang meski total manfaat > biaya → Inilah kegagalan pasar barang publik Solusi: Pemerintah memungut pajak paksa dan menyediakan lampu → Masalah free rider diatasi dengan pemungutan paksa (pajak)
Logika yang sama menjelaskan mengapa pertahanan nasional, mercusuar, sistem peringatan bencana, penelitian dasar, dan siaran TV publik tidak bisa disediakan secara optimal oleh pasar swasta. Ini bukan karena tidak ada yang mau — melainkan karena setiap individu punya insentif untuk menjadi free rider dan menunggu orang lain yang membayar.
5. Informasi Asimetris
George Akerlof, Michael Spence, dan Joseph Stiglitz berbagi Nobel Ekonomi 2001 atas kontribusi mereka dalam menganalisis pasar dengan informasi asimetris. Karya mereka menunjukkan bahwa ketika satu pihak dalam transaksi memiliki informasi yang jauh lebih baik, pasar bisa gagal total — bahkan untuk barang yang semua orang inginkan.
5.1 Adverse Selection: Seleksi yang Salah Arah
Adverse selection terjadi sebelum transaksi (ex-ante): pihak yang memiliki karakteristik tidak menguntungkan lebih termotivasi untuk bertransaksi, sementara pihak yang berkualitas baik justru tersingkir keluar.
Pasar Mobil Bekas: "The Market for Lemons" (Akerlof, 1970)
Akerlof menunjukkan bahwa informasi asimetris bisa menghancurkan seluruh pasar. Di pasar mobil bekas, penjual tahu kondisi sebenarnya kendaraannya (baik atau "lemon" = rusak), tapi pembeli tidak. Karena tidak bisa membedakan, pembeli hanya bersedia membayar harga rata-rata.
Harga rata-rata terlalu rendah bagi pemilik mobil bagus — mereka menarik diri dari pasar. Sisa penjual adalah yang punya mobil jelek (lemon). Pembeli yang sadar akan hal ini makin menurunkan penawaran mereka. Siklus ini berlanjut hingga hanya mobil terburuk yang tersisa di pasar — bahkan mungkin pasar runtuh sama sekali.
Adverse selection juga melanda pasar asuransi (orang sakit lebih mungkin membeli asuransi kesehatan), pasar kredit (peminjam berisiko tinggi lebih antusias meminjam), dan pasar tenaga kerja (pekerja yang tahu dirinya tidak produktif lebih agresif mencari pekerjaan).
5.2 Moral Hazard: Perilaku Berubah Setelah Transaksi
Moral hazard terjadi setelah transaksi (ex-post): ketika salah satu pihak tidak bisa mengamati perilaku pihak lain, pihak yang terlindungi dari konsekuensi buruk cenderung mengambil risiko lebih besar atau berusaha lebih sedikit.
| Konteks | Perilaku Berubah | Mekanisme Solusi |
|---|---|---|
| Asuransi kendaraan | Pemilik yang sudah diasuransikan cenderung parkir sembarangan atau kurang hati-hati saat berkendara | Premi berbasis klaim, deductible (pemegang polis menanggung sebagian kerugian) |
| Asuransi kesehatan | Yang sudah diasuransikan cenderung lebih banyak mengunjungi dokter atau memilih prosedur mahal | Co-payment, jaringan provider terbatas, pre-authorization |
| Kredit bank | Peminjam yang sudah mendapat dana mungkin berinvestasi dalam proyek lebih berisiko dari yang dijanjikan | Covenant kredit, jaminan, monitoring berkala, cicilan bertahap |
| Hubungan kerja | Karyawan yang tidak diawasi mungkin bekerja lebih santai (shirking) | Insentif berbasis kinerja, bonus, pemantauan, promosi berdasarkan hasil |
| "Too big to fail" | Bank yang tahu akan diselamatkan pemerintah mengambil risiko investasi yang berlebihan | Regulasi modal minimum (Basel III), stress test, resolusi bank yang credible |
5.3 Sinyal dan Penyaringan
Pasar sering mengembangkan mekanisme sendiri untuk mengatasi informasi asimetris — tanpa perlu intervensi pemerintah:
- Sinyal (Signaling) — pihak yang memiliki informasi superior mengirim sinyal yang dapat dipercaya. Pendidikan (Spence, 1973): meski pendidikan tidak selalu meningkatkan produktivitas, gelar yang mahal untuk diperoleh menjadi sinyal yang dapat dipercaya bahwa pemegangnya produktif — karena hanya orang produktif yang bersedia mengeluarkan biaya sebesar itu.
- Penyaringan (Screening) — pihak yang kurang informasi merancang mekanisme untuk mengungkap informasi. Perusahaan asuransi menawarkan berbagai paket dengan kombinasi premi-deductible yang berbeda: yang sehat memilih premi rendah-deductible tinggi, yang sakit memilih premi tinggi-deductible rendah — sehingga terjadi self-selection yang mengungkap tipe nasabah.
- Reputasi dan Merek — investasi jangka panjang dalam reputasi berfungsi sebagai jaminan kualitas yang dapat dipercaya karena mahal untuk dibangun dan mahal untuk dihancurkan.
- Garansi dan Sertifikasi — garansi produk adalah sinyal kualitas yang dapat dipercaya karena hanya produsen berkualitas baik yang mampu menanggung biaya garansi secara berkelanjutan.
6. Kekuatan Monopoli sebagai Kegagalan Pasar
Kekuatan pasar — kemampuan satu atau beberapa perusahaan untuk menetapkan harga di atas biaya marginal — adalah kegagalan pasar yang sudah dibahas secara mendalam dalam konteks struktur pasar. Di sini kita melihatnya dari sudut pandang efisiensi sosial yang lebih komprehensif.
┌─────────────────────┬──────────────────┬────────────────────────┐ │ Jenis Kegagalan │ Arah Distorsi │ Akibat │ ├─────────────────────┼──────────────────┼────────────────────────┤ │ Eksternalitas (-) │ Terlalu banyak │ MSC > MSB di Qm │ │ │ diproduksi │ Masyarakat menanggung │ │ │ │ biaya yang tidak perlu │ ├─────────────────────┼──────────────────┼────────────────────────┤ │ Eksternalitas (+) │ Terlalu sedikit │ MSB > MSC di Qm │ │ │ diproduksi │ Masyarakat kehilangan │ │ │ │ manfaat yang ada │ ├─────────────────────┼──────────────────┼────────────────────────┤ │ Barang Publik │ Terlalu sedikit │ Free rider mencegah │ │ │ disediakan │ penyediaan optimal │ ├─────────────────────┼──────────────────┼────────────────────────┤ │ Informasi Asimetris │ Pasar bisa runtuh│ Adverse selection dan │ │ │ atau tidak ada │ moral hazard mencegah │ │ │ sama sekali │ transaksi yang efisien │ ├─────────────────────┼──────────────────┼────────────────────────┤ │ Kekuatan Monopoli │ Terlalu sedikit │ P > MC → DWL │ │ │ diproduksi, │ Transfer surplus dari │ │ │ harga terlalu │ konsumen ke produsen │ │ │ tinggi │ + kerugian bersih │ └─────────────────────┴──────────────────┴────────────────────────┘
Perlu dicatat bahwa tidak semua kekuatan pasar adalah hasil kegagalan pasar yang perlu diintervensi. Monopoli yang muncul dari inovasi dan keunggulan kompetitif alami (seperti Microsoft di era 1990-an atau Google di era pencarian web) memberikan insentif untuk berinovasi. Menghancurkan semua monopoli justru bisa mengurangi insentif inovasi yang berharga. Tantangan kebijakan adalah membedakan antara kekuatan monopoli yang bersumber dari efisiensi vs. yang bersumber dari hambatan masuk anticompetitive.
7. Studi Kasus Indonesia
Kebakaran Hutan dan Kabut Asap: Eksternalitas Lintas Batas
Kebakaran lahan gambut di Sumatera dan Kalimantan adalah salah satu contoh eksternalitas negatif terbesar di Asia Tenggara. Perusahaan perkebunan dan petani yang membakar lahan menanggung biaya pembersihan yang sangat rendah — namun biaya sosialnya sangat masif: kabut asap yang memperburuk kesehatan jutaan orang di Indonesia, Malaysia, dan Singapura, kerusakan ekosistem yang tidak ternilai, dan emisi karbon yang berkontribusi pada perubahan iklim global.
Studi Bank Dunia memperkirakan kerugian ekonomi akibat kebakaran hutan Indonesia 2015 mencapai lebih dari US$16 miliar — jauh melebihi manfaat ekonomi dari pembukaan lahan itu sendiri. Ini adalah bukti nyata bahwa ketika biaya eksternal tidak diinternalisasi, keputusan privat yang "rasional" menghasilkan kerugian sosial yang sangat besar.
Vaksinasi COVID-19 dan Eksternalitas Positif Skala Nasional
Program vaksinasi COVID-19 Indonesia adalah demonstrasi nyata mengapa pemerintah perlu mengintervensi pasar untuk barang dengan eksternalitas positif besar. Vaksin memiliki dua dimensi kegagalan pasar sekaligus: eksternalitas positif yang masif (herd immunity melindungi seluruh masyarakat, termasuk yang tidak bisa divaksin) dan elemen barang publik (manfaat kesehatan komunal yang non-excludable setelah herd immunity tercapai).
Tanpa intervensi, banyak individu akan memilih free ride — mengandalkan orang lain untuk divaksin dan menikmati perlindungan herd immunity tanpa menanggung biaya dan ketidaknyamanan vaksinasi. Hasilnya: cakupan vaksinasi jauh di bawah tingkat herd immunity yang diperlukan. Respons pemerintah — menyediakan vaksin gratis, kampanye masif, dan berbagai insentif — adalah intervensi yang tepat secara teoritis untuk menginternalisasi eksternalitas positif ini.
Pasar Properti dan Masalah Kualitas yang Tersembunyi
Pasar properti Indonesia — khususnya pasar rumah secondhand — menampilkan informasi asimetris yang kuat mirip "The Market for Lemons." Penjual tahu kondisi sebenarnya propertinya: apakah ada retakan struktural yang ditutupi cat baru, masalah banjir musiman yang disembunyikan, atau sengketa sertifikat yang belum terselesaikan. Pembeli tidak bisa mengetahui semua ini dari inspeksi singkat.
Akibatnya, pembeli berhati-hati dan menekan harga — pemilik properti berkualitas baik merasa harga terlalu rendah dan enggan menjual. Pasar menjadi didominasi properti bermasalah. Solusi yang berkembang: jasa appraisal independen, notaris yang memverifikasi legalitas, platform properti seperti Rumah123 yang mendorong transparansi, dan sertifikasi agen properti melalui PPJB standar.
Tragedi Overfishing di Perairan Indonesia
Indonesia memiliki wilayah laut terluas kedua di dunia, namun hampir semua stok ikan lautnya mengalami tekanan penangkapan berlebihan (overfishing). Ini adalah tragedi sumber daya bersama yang klasik: laut adalah non-excludable (susah melarang nelayan masuk) namun rival (ikan yang ditangkap satu nelayan tidak bisa ditangkap nelayan lain).
Setiap nelayan secara individual rasional memaksimalkan tangkapannya — namun jika semua nelayan melakukan hal yang sama, stok ikan akan habis dan semua rugi. Data KKP menunjukkan beberapa Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) di Indonesia sudah dalam status overfished, terutama di perairan Jawa dan Selat Malaka. Tanpa intervensi — kuota tangkap, zona larang tangkap, atau pembatasan alat tangkap — tragedi commons akan terus berlanjut.
8. Pertanyaan yang Sering Ditanyakan (FAQ)
📚 Referensi & Sumber
-
1Pindyck, R.S. & Rubinfeld, D.L. — Microeconomics (9th ed.) Pearson Education, 2018. Bab 18: Externalities and Public Goods. Analisis formal eksternalitas, barang publik, dan berbagai mekanisme koreksi kegagalan pasar.
-
2Akerlof, G.A. — "The Market for Lemons" (1970) Quarterly Journal of Economics, Vol. 84, No. 3. Makalah seminal tentang adverse selection dan kegagalan pasar akibat informasi asimetris — salah satu makalah paling berpengaruh dalam ekonomi abad ke-20.
-
3Coase, R.H. — "The Problem of Social Cost" (1960) Journal of Law and Economics, Vol. 3. Makalah fondasi teorema Coase tentang negosiasi privat sebagai solusi eksternalitas ketika hak properti jelas dan biaya transaksi rendah.
-
4Ostrom, E. — Governing the Commons (1990) Cambridge University Press. Karya Nobel 2009 yang menunjukkan bahwa komunitas lokal bisa mengembangkan aturan pengelolaan sumber daya bersama yang efektif — menantang dikotomi "privatisasi atau regulasi" dalam mengatasi tragedy of the commons.
-
5World Bank — The Cost of Fire: An Economic Analysis of Indonesia's 2015 Fire Crisis Analisis ekonomi komprehensif atas biaya sosial kebakaran hutan Indonesia 2015, mencakup dampak kesehatan, ekonomi, dan lingkungan sebagai studi kasus eksternalitas negatif berskala besar.
worldbank.org/en/country/indonesia -
6Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) — Laporan Status Sumber Daya Ikan Data dan analisis status stok ikan di Wilayah Pengelolaan Perikanan (WPP) Indonesia, digunakan sebagai dasar studi kasus tragedy of the commons di sektor perikanan.
kkp.go.id
Ringkasan: Apa yang Sudah Kita Pelajari
- Kegagalan pasar terjadi ketika mekanisme pasar gagal mencapai alokasi yang efisien secara sosial — menghasilkan deadweight loss yang tidak bisa diselesaikan pasar sendiri.
- Eksternalitas negatif (polusi, kemacetan) menyebabkan produksi berlebihan karena MPC < MSC. Solusi: pajak Pigouvian = biaya eksternal marginal di titik output optimal.
- Eksternalitas positif (vaksinasi, pendidikan) menyebabkan produksi kurang karena MPB < MSB. Solusi: subsidi = manfaat eksternal marginal di titik output optimal.
- Teorema Coase: jika hak properti jelas dan biaya transaksi nol, negosiasi privat bisa mencapai solusi efisien. Namun syarat ini jarang terpenuhi untuk eksternalitas skala besar.
- Barang publik (non-rival + non-excludable) tidak bisa disediakan optimal oleh pasar karena masalah free rider. Pemerintah harus menyediakannya melalui pajak.
- Sumber daya bersama (rival + non-excludable) menghadapi tragedy of the commons — eksploitasi berlebihan karena setiap individu rasional mengambil sebanyak mungkin sebelum habis.
- Adverse selection (sebelum transaksi): pihak berkualitas buruk lebih aktif bertransaksi → pasar bisa runtuh. Solusi: sinyal, penyaringan, sertifikasi, reputasi.
- Moral hazard (setelah transaksi): pihak yang terlindungi dari konsekuensi mengambil risiko berlebihan. Solusi: deductible, insentif berbasis kinerja, monitoring.
- Kekuatan monopoli menghasilkan P > MC → output terlalu rendah, harga terlalu tinggi, deadweight loss. Justifikasi regulasi antimonopoli dan regulasi harga monopoli alami.
0 Komentar
Punya pertanyaan? Silahkan komen dibawah.